A.     Latar BelakangAnak-anak sangat suka ketika pengasuhdan orang tua mereka mendongeng, apalagi dongeng pengantar tidur.

Efek positif dari  family storytelling bisa sangat mendalam danbertahan lama. Ikatan antara pengasuh yang menceritakan kisah dan anak yangmendengarkan dan merespons.. Imajinasi seorang anak akan berkembangketika mendengarkan sebuah dongeng.

Anak-anak akan membayangkan tokoh, tempat,dan peristiwa yang dikisahkan. Dengan demikian, seorang anakyang tidak pernah secara langsung mengalami laut dapat belajar dari ceritabahwa untuk menyeberangi samudra seseorang perlu naik perahu kecuali merekamemiliki kekuatan magis untuk terbang. Seorang anak akan belajar dari dongengyang akrab bahwa rumah yang terbuat dari jerami rentan diserang, sedangkanrumah yang terbuat dari batu bata cukup kuat untuk menyingkirkan serigalapemangsa. Anak-anak dapat belajar dari cerita bahwa mudah tersesat di hutan danbahwa seekor sapi pada umumnya lebih berharga daripada segenggam kacang.Kisah dongeng membawa pendengarnyaterhanyut ke dalam dunia fantasi. Imajinasi dan fantasi adalah sebuah proseskejiwaan yang sangat penting. Rasa ingin tahu ini sangat penting bagi perkembanganintelektual anak.

Penyampaian pesan moral bisa melalui nilai-nilai positifmelalui isi dongeng, biasanya lebih didengarkan anak. Karena anak senangmedengarkannya, maka secara otomatis pesan-pesan yang kita selipkan akandidengarkan anak dengan senang hati. Dongeng dapat dinikmati beberapa kalangan,mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Pesan moral yang disampaikandalam dongeng biasanya merupakan petunjuk bertingkah laku di masyarakat, ajaranbaik dan buruk, tidak boleh sombong dan durhaka, bermakna dan penuh suri tauladan, dan berbagai kegembiraan,kebahagiaan, kesedihan, kemalangan, dan derita.

Dongeng merupakan suatu kisah yangdiangkat dari “cerita tidak nyata atau pemikiran fiktif’ menjadi suatualur perjalanan hidup. Di dalam dongeng terkandung pesan moral yang mengajarkanmakna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dongeng jugamerupakan dunia hayalan dan imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudiandiceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Dongeng memilikiberagam jenis, antara lain mitos, legenda, sage dan fable. Namun sekarang ini, dongeng mulaidilupakan, karena banyak anak-anak tidak tahu dan tidak mengenal apa itudongeng.

Padahal di dalam dongeng terkandung pesan moral yang mengajarkan maknahidup dan penuh suri tauladan. Dongeng hampir pasti digantikan oleh televisi.Televisi bukan hanya merupakan hiburan, bahkan sebagai gaya hidup, pendampinghidup, pengasuh atau pengganti orang tua untuk menemani sang anak. Anak-anakcenderung lebih suka dengan film kartun seperti Sponge Bob, Avatar, Shaun theSheep, Sinchan, Doraemon dan film sinetron serial anak seperti Garuda Impiandan Anak Kaki Gunung. Selain itu pada saat ini anak-anak ini juga lebih sukadengan gamesyang ada di computer dibandingkan membaca buku kisah-kisahdongeng.Storytelling memiliki sejarah yangpanjang dan berbeda bahasa, tulisan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu.Pendongeng melewati tradisi lisan dalam bentuk mitos dan cerita rakyat.

Denganmeningkatnya tingkat minat baca masyarakat, tingkat dan popularitas mendongengmenurun, namun dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi kebangkitan kembaliminat yang cukup besar. Sementara itu, tradisi orang tua menceritakan (atau,lebih sering, membaca) cerita kepada anak mereka terus berlanjut, meski dengankemunduran baru-baru ini. Di tempat lain kita telah menyajikan sebuah diskusiyang luas tentang psikologi pengisahan cerita (Killick & Frude, 2011). Padaartikel ini, kami berfokus terutama pada ‘family storytelling’ yang kami maksudsebagai orang tua atau pengasuh (kakek-nenek, pengasuh, dll) yang menceritakanatau membaca cerita kepada anak-anak. B.

    Pembahasan Banyak cerita dongeng dirancang untuk membangkitkan gairah pendengar serta efekemosional yang kuat. Dengan demikian sebuah cerita bisa menghibur seorang anakbisa juga untuk menakut-nakuti. Beberapa cerita merangsang emosi yang naikturun, seperti ketika seorang pahlawan menghadapi bahaya yang semakin banyak,dalam klimaks yang cerita akhirnya ia muncul sebagai pemenang. Raksasa itudibunuh, lalu sang serigala itu jatuh ke dalam kuali air mendidih, atau sangputri diselamatkan dari penjara. Karena berbagai emosi yang rangsang olehcerita, anak memiliki banyak kesempatan untuk mencatat hubungan antara kejadiandalam cerita dan bagaimana perasaan mereka. Si pendongeng dapat membubuhiketerangan perkembangan cerita dengan memberi label respons emosional yangmungkin terjadi (‘Putri Salju telah meninggal – bukankah itu menyedihkan?’). Diajuga dapat membantu anak untuk mengatasi emosi negatif seperti kemarahan dankesedihan dengan berbagai cara, misalnya dengan melihat dengan pandanganoptimis (‘Apakah Anda berpikir bahwa seorang Pangeran mungkin akan datang danmenciumnya kembali ke kehidupan lagi? Haruskah kita melihat?’). Semua inimenambah pengalaman emosi dan kapasitas anak untuk mengatasi emosi yang sulit.

Pengasuhbisa menyampaikan banyak pesan kompleks tentang emosi melalui cerita.Banyak cerita anak-anak agak mengancam, dan beberapa cerita klasik termasukadegan mengerikan. Beberapa di antaranya cenderung merangsang ketakutan karenaanak akan mengenali karakter yang menjadi korban dengan berbagai cara, misalnyadengan ditinggalkan saat sendirian. Meskipun anak-anak dapat terganggu oleh’cerita menyeramkan’, mereka sering tertarik dengan cerita dengan beberapakonten mengerikan, misalnya hal-hal yang mencakup perbuatan jahat yangdilakukan oleh raksasa, penyihir dan hewan liar. Anak-anak tampaknya memilikidaya tarik yang terkandung terhadap gambaran ancaman.

Beberapa penjelasan telahditawarkan untuk fenomena ini, namun tema penjelasan umum adalah tema keinginananak untuk menghadapi situasi yang mengancam dan kemudian menguasai ketakutanmereka. Ancaman mungkin relatif mudah untuk dihadapi saat mereka berhadapansecara tidak langsung (seperti dalam sebuah cerita) dan ketika situasikonfrontasi aman dan protektif. Mendongeng oleh pengasuh, di kamar tidur anak,mungkin dengan mainan favorit, tampaknya akan menjadi situasi ideal untuk menghadapisetan. Karena storytelling  selalumelibatkan pendongeng dan pendengar, pada dasarnya ini adalah kegiatan sosial.Setiap pendongeng sadar bagaimana cerita diterima oleh penonton dan merekamungkin menyesuaikan kecepatan, gaya dan terkadang bahkan isi pengiriman merekauntuk memaksimalkan dampaknya (dalam hal hiburan atau efek dramatis). Dengandemikian, pengisahan cerita hidup bukanlah sekadar transmisi informasi satuarah namun bersifat reaktif dan interaktif. Ini adalah kegiatan sosial yangmelibatkan dua atau lebih orang yang, paling tidak selama pengisahan cerita,terlibat dalam tipe sosial khusus.

Mendongengadalah jenis interaksi sosial khusus dan aktivitas ini sangat penting saatorang yang berdongeng kepada seorang anak adalah orang tua atau pengasuh anaktersebut. Sejumlah aspek penting dari situasi pendengaran orang tua-anak akandijelaskan secara singkat sebelum memperkenalkan teori keterikatan untukmemberi penerangan tambahan pada karakteristik khusus dari cerita orangtua-anak.Familystorytelling mendorong sinkron antara pengasuh sebagai pendongeng dan anak yangmendengarkan. Kapanpun orang berinteraksi, ada kecenderungan gerakan, geraktubuh dan perilaku verbal mereka untuk disinkronkan. Selain koreografi otomatisdan tidak sadar yang terlibat dalam tarian yang disinkronkan ini, orang dewasajuga dengan sengaja mendorong sinkron semacam itu, misalnya denganmelebih-lebihkan gerak tubuh dan suara mereka sendiri, dengan secara sadarmeniru gerakan bayi dan dengan mengulangi gerakan yang sama berulang-ulang.

Mendongeng dan membacakan sajak kepada anak-anak memberi banyak kesempatanuntuk latihan dan pengembangan sinkronis non verbal dan verbal. Upaya pengasuh untukmendorong tindakan tersinkronisasi oleh anak kecil sangat jelas saat merekaterlibat dengan anak tersebut dalam membaca sajak pembibitan. Dalam situasiini, pengasuh pertama kali menghibur anak tersebut, yang terutama pendengarnya;Mereka kemudian mengajak anak tersebut untuk berkolaborasi dengan mereka danakhirnya mereka menyerahkan bagian pembicaraan utama sehingga anak tersebutmenjadi pemain utama. Sajak anak-anak meminjamkan diri dengan mudah ke prosesini, bahkan pada anak-anak yang masih sangat muda, karena sajak ini memilikistruktur yang sangat sederhana dan irama yang diucapkan.Upayapengasuh untuk melibatkan anak sebagai peserta aktif mungkin kurang terlihatdalam cerita naratif, namun pengasuh yang sedang bercerita akan seringmendorong anak tersebut untuk ‘bergabung’ dalam berbagai cara sehingga acaramenjadi lebih banyak dialog daripada sebuah monolog.

Dengan demikian anak dapatdiundang untuk terlibat dalam percakapan tentang salah satu karakter ataubeberapa aspek dari cerita yang terbentang.Interaksimendongeng pengasuh melibatkan keduanya berbagi pengalaman. Bersama-sama merekamenjadi terbiasa dengan karakter, mengikuti alur cerita dan bereaksi secaraemosional terhadap kejadian saat mereka diungkap.

Selanjutnya, pengasuh dananak masing-masing sadar bahwa yang lain berbagi pengalaman serupa. Ada sesuatuyang berbeda, misalnya menonton film sendiri atau dengan orang lain. Bagiandari apa yang membuat teater dan konser live begitu kuat adalah kenyataan bahwaorang lain berbagi pengalaman pada saat bersamaan dan di tempat yang sama.

Dengan demikian mengalami cerita yang sama bersama-sama cenderung membuatcerita itu lebih menyenangkan dan juga cenderung meningkatkan hubungan.Ceritanya adalah obyek perhatian bersama. Ini mungkin juga menggemakan konsepruang transisi Winnicott, ilusi bersama tentang pengalaman antara pengalamanantara realitas internal dan eksternal.  C.   Simpulan dan Saran Family storytelling memiliki peran penting dalam mendekatkan diri kepadaanak. Baik bagi orang tua maupun pengasuh anak tersebut. Faktanya  anak-anak bukan hanya pendengar pasif tapisecara aktif berkolaborasi dengan pendongeng dalam bentuk interaksi sosial yangkhusus.

Juga mendorong sinkron antara pengasuh sebagai pendongeng dan anak yangmendengarkanSebaiknyapara pengasuh yang baru pertama kali berinteraksi kepada anak bisa mencobametode strorytelling saat sebelum tidur. Sehingga anak tidak lagi merasacanggung maupun takut kepada pengasuh yang baru saja ia temui ke esokanharinya. 

Written by
admin
x

Hi!
I'm Colleen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out