EndangSumartiIKIPBudi Utomo Malange-mail:[email protected]  Abstrak: Pendidikankarakter merupakan bentukkegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidikdiperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalahuntuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatihkemampuan diri menuju hidup yang lebih baik. Pendidikankarakter dibutuhkan anak autis sebagai bekal dalam hidupnya sehingga siapmenghadapi segala tantangan di dunia yang penuh persaingan dengan penuh percayadiri.

Salah satu cara penanaman nilai pendidikan karakter anak autis dilakukanmelalui dongeng. Dongeng merupakan media efektif untuk menanamkan nilaipendidikan karakter kepada anak autis. Kata Kunci: pendidikan karakter, anak autis, dongeng A. PendahuluanPendidikankarakter merupakan bentukkegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidikdiperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Pendidikan karakter, pendidikanbudi pekerti dapat dikatakan sebagai proses untuk penyempurnaan diri manusia,merupakan usaha manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang berakhlakmulia, manusia yang berkeutamaan (Koesoema, 2007). Pendidikan karakter padaprinsipnya adalah upaya untuk menumbuhkan kepekaan dan tanggung jawab sosial,membangun kecerdasan emosional dan mewujudkan siswa yang memiliki etika tinggi(Barnawi, 2012). Amanat Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 tentangSistem Pendidikan Nasional secara tegas menyatakan bahwa pendidikan nasionalberfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsayang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untukberkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman danbertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap,kreatif, mandiri, danmenjadi warga negara yangdemokratis serta bertanggungjawab.

Pendidikan karakter sebagai sebuah usaha untuk mendidikanak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannyadalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yangpositif kepada lingkungannya (Kesuma, 2011). Pendidikan karakter tidak hanyauntuk anak normal saja. Anak berkebutuhan khususpun perlu pendidikan karakter. Salahsatu anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan pendidikan karakter adalah anakautis. Pendidikan karakter dibutuhkan anak autis sebagai bekal dalam hidupnyasehingga siap menghadapi segala tantangan di dunia yang penuh persaingan denganpenuh percaya diri. Autis merupakan suatu gangguan yang kompleks dimana anaktersebut umumnya mengalami tiga bidang kesulitan yaitu komunikasi, imajinasi,dan sosialisasi (Baihaqi, 2006). Ditinjau dari segi perilaku, anak autiscenderung melukai dirinya sendiri, tidak percaya diri, bersikap agresif,menanggapi secara kurang atau berlebihan terhadap suatu stimuli eksternal, danmenggerak-gerakkan anggota tubuhnya secara tidak wajar (Maulana, 2007).

Anakautis memiliki sejumlah gangguan kualitatif dalam berkomunikasi salah satunyaadalah kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lainmeskipun dalam percakapan yang sederhana (Peeters: 2009). Jumlah anak Indonesia yang menyandang autis terusbertambah meskipun penyebabnya masih misterius. Sampai saat ini kalangan medisdi Indonesia belum punya standar penanganan baku untuk menangani anak autis.

Meningkatnya jumlah anak autis merupakan persoalan yang menjadi tanggung jawabbersama, bukan hanya tanggung jawab medis atau psikolog saja. Pendidikan juga memainkanperan untuk mengarahkan mereka menjadi manusia-manusia yang mandiri danbermanfaat sesuai dengan kemampuannya agar tidak menjadi beban bagi lingkungandi sekelilingnya.Salah satu cara penanaman pendidikan karakter pada anak autisbisa dilakukan melalui dongeng. Dongeng merupakan media efektif untukmenanamkan nilai pendidikan karakter kepada anak termasuk anak autis.  Melalui dongeng guru, orang tua, danmasyarakat dapat melakukan transformasi nilai melalui perilaku dan karaktertokoh dalam cerita (Siswantodkk, 2017).

Misalnya nilai-nilaikejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makansayur dan menggosok gigi. Salah satu keberhasilan suatu dongeng ditentukan olehkemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik.Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarikuntuk menulis tentang Pendidikan Karakter Anak Autis melalui Dongeng. B.  Pembahasan1.   PendidikanKarakterPendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan olehpara personil sekolah, bahkan dilakukan bersama-sama dengan orang tua dananggota masyarakat untuk membantu anak-anak dan remaja agar memiliki sifatpeduli, berpendirian, dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter adalah sebuahproses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalamkepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu(Majid, 2011). Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikansebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa.

Lickona (1992) menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatuusaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami,memperhatikan dan melakukan nilai-nilai etika. MenurutLickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing),sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapatdinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan,keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Pendidikan karakter merupakan salah satu usaha untukmendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak danmempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikankontribusi yang positif kepada lingkungannya (Kesuma, 2011). Pendidikankarakter pada prinsipnya adalah upaya untuk menumbuhkan kepekaan dan tanggungjawab sosial, membangun kecerdasan emosional dan mewujudkan siswa yang memilikietika tinggi (Barnawi, 2012). Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yangtepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai.

Diantara metode pembelajaran yangsesuai adalah metode keteladanan, metode pembiasaan, dan metode pujian danhukuman.Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkanbahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budipekerti, pendidikan moral dan pendidikan watak yang bertujuan mengembangkankemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apayang baik, mewujudkan , dan menebar kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari. 2.

   Pengertiananak autisAutis berasal darikata auto yang berarti sendiri. Istilahautisme, diperkenalkan sejak 1943oleh Kanner untuk menghormati penemunya, autisme disebut juga sindroma Kanner,yakni sindroma dengan gejala tidak mampu bersosialisasi, kesulitan menggunakanbahasa, berperilaku berulang-ulang, serta bereaksi tidak biasa terhadap rangsangandisekitarnya (Handojo, 2004; Yatim, 2003). Dalam Diagnostic and Statistical manual Fourth Edition (DSM IV), autisme ditempatkan di bawah kategorigangguan perkembangan pervasif antara retardasi mental dan gangguanperkembangan spesifik. Autisme adalah gangguan perkembangan yang mengganggu perkembangan interaksi sosial,perilaku, dan bahasa penyandangan. Autisme bukan gangguan mental dan tidakdisebabkan oleh trauma. Autisme merupakan ganguan neurobiologi kompleks.

(Peeters, 2004; Puspita, 2004).Autisme merupakangangguan perkembangan khusunya terjadi pada masa anak-anak yang membuatseseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalamdunianya sendiri. Autisme merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anakyang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif,komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilaku. Dalam bahasaYunani kata autis, “auto” berarti sendiri ditujukan kepada seseorang ketika diamenunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri atau mempunyai dunia sendiri”.Autis memang merupakan kelainan perilaku yang penderitanya hanya tertarik padaaktivitas mentalnya sendiri (Prasetyono, 2008; Veskarisyanti, 2008).  Gejala autisme sudah tampak sebelum anakmencapai usia tiga tahun. Autis merupakan gangguan perkembangan yang berat padaanak.

Perkembangan mereka menjadi terganggu terutama dalam komunikasi,interaksi, dan perilaku. Autisme adalah suatu gangguan neurobilogis yangterjadi pada anak di bawah tiga tahun. Gangguan yang tampak adalah gangguandalam bidang perkembangan, perkembangan interaksi dua arah, perkembangan timbal balik, danperkembangan perilaku. Gangguan perilaku pada anak autisme bercirikan kurangdalam bersosialisasi resiprokal, kekacauan dalam berkomunikasiverbal dan nonverbal, serta perilaku repetitif. (Maulana, 2007). Anak-anak dengangangguan autistik biasanya kurang dapat merasakan kontak sosial. Merekacenderung menyendiri dan menghindari kontak dengan orang. Orang dianggapsebagai objek (benda) bukan sebagai subjek yang dapat berinteraksi danberkomunikasi.

Autistik merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhibeberapa aspek bagaimana anak melihat dunia dan bagaimana belajar melaluipengalamannya. Autis adalah salah satu dari lima tipe gangguan perkembanganpervasif atau pervasif developmen disorder (PDD), yang ditandai tampilnyaabnormalitas pada domain interaksi sodial dan komunikasi (Yuwono, 2009;Priyatna, 2010). Dari berbagai definisi di atas dapatdisimpulkan bahwa autisme adalah sindroma dengan gejala penyimpangankomunikasi, sosialisasi, dan kognisi, yang dialami seseorang dalamperkembangannya. Anak autis adalah individu dengan suatu kondisi ketidakmampuanuntuk menampilkan keselarasan antara emosi atau perilaku dalam berkomunikasidan berinteraksi dengan lingkungan yang dapat diterima secara umum sesuaidengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. 3.

   Karakteristikanak autisKarakteristik anak autis antara lain tidak peduli dengan lingkungan sosialnya, tidakbisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya, perkembangan bicara dan bahasatidak normal, dan reaksi atau pengamatan terhadap lingkungan terbatas atauberulang-ulang. Selain itu anak autis cenderung menghindari kontak mata denganorang lain, termasuk dengan sang ibu, senang melihat mainan berputar dan digantung di atas tempat tidur,terlambat bicara dan bahasanya tidak dimengerti orang lain,  tidak mau bila dipanggil namanya, cenderungtidak mempunyai rasa empati, dan merasa tidak nyaman bila memakai pakaiandengan bahan kasar. Anak autis memiliki ciri khusus antaralain adalah suara yang bergaung, rasa takut untuk disentuh, berjalan di atasujung kaki, memutar-mutar tubuh seperti gasing, melompat-lompat, dan menirukata-kata. Beberapa anak autistiktidak mampu berbicara, tidak mampu mengekspresikan diri, baik melalui bahasaverbal maupun nonverbal, terlihat sangat asyik dengan dirinya sendiri, minatnyaterbatas, dan sama sekali tidak tertarik dengan lingkungannya. Kekebalan tubuhtidak berkembang sebagaimana seharusnya, berinteraksi jika membutuhkan sesuatu,berkomunikasi dengan tertawa dan menangis, sangat hiperaktif, tidak maudigandeng di tempat umum, menolak diarahkan, bahkan  menolak disentuh, dan dipegang (Yatim, 2003;Puspita, 2004)  .Menurut Handojo, (2004); Peeters, (2004); Peeters, (2009); Prasetyono (2008) kriteria gangguan autistikdalam DSM-IVdipaparkan berikut ini.A.

     Harusada  sedikitnya enam gejala dari (1),(2), dan  (3)  dengan minimal dua dari gejala (1) dan masing-masing satu dari gejala (2) dan(3).(1)   Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Mnimal harus ada dua gelaja darigejala-gejala  di bawah ini.a.      Tak mampumenjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, eksprsi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju.b.

     Tak bisa bermain dengan temansebaya.c.      Tak dapatmerasakan apa yang dirasakan orang lain.d.     Kurangnyahubungan sosial dan emosional yang timbal balik.(2)   Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditujukkan olehminimal satu dari gejala-gejala di bawah ini:a.

      Bicaraterlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (dan tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpabicara).b.     Bila bisabicara, tidak dipakai untuk berkomunikasi.c.      Seringmenggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.d.

     Carabermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang bisa meniru.(3)   Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku,minat, dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah ini.a.      Mempertahankansatu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.b.     Terpakupada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.

c.      Adagerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.d.     Seringkali sangat terpukau padabagian-bagian benda.B.      Sebelumumur tiga tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang:a.

      Interaksisosial.b.     Berbicaradan berbahasa.c.      Carabermain yang kurang variatif.C.

      Bukandisebabkan oleh sindrom Rett atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak Selain itukarakteristik anak autis antara lain tidak tampak tanda-tanda perkembanganbahasa, kadang-kadang mengeluarkan suara tanpa arti. Gangguan interaksi sosialyaitu anak mengalami kegagalan untuk bertatap mata, ketidakmampuan untuk secaraspontan mencari teman untuk berbagi kesenangan, dan ketidakmampuan anak untukberempati. Aktivitas, perilaku, dan ketertarikan anak terlihat sangat terbatas.Sangat sensitif terhadap sentuhan, tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasatakut.

Menyenangi benda-benda yang berputar, tidak suka bermain sepertianak-anak pada umumnya, dan dengan anak sebayanya. Sering marah-marah tanpaalasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan, temper tantrum,kadangkadang suka menyerang dan merusak, berperilaku yang menyakiti dirinyasendiri, serta tidak mempunyai empati yang tidak mengerti perasaan oranglain.  (Maulana, 2007; Veskarisyanti,2008; Prasetyono, 2008).Berbagai karakteristik autisme yangtelah dijabarkan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik autisme dapatdikelompokkan berdasarkan (1) isu berbicara, meliputi  tidak mampu berbicara, tidak mampu bersuara,membeo; (2) isu interaksi, meliputi kurang berinteraksi dalam kelompok, kurang kontak mata, tampak tidakbekesadaran terhadap kehadiran orang lain; (3) isu perilaku, meliputi tidaktertarik sentuhan/berdekatan, asyik dengan gerakan tangan; berputar-putar,diulang-ulang; menyakiti diri sendiri, berperilaku rutin; (4) isu sensori,meliputi tidak suka suara-suara tertentu, tekstur dan atau rasa tertentu, tidaksuka disentuh, sangat pasif, menutup telinga terhadap gangguan suara yangkeras, (5) kemampuan khusus meliputi menggambar, musik, matematika, (6) penandabiologis meliputi bermasalah pada makanan, beberapa anak menderita gangguantidur.

 4.   PendidikanKarakter Anak Autis melalui DongengPendidikankarakter kini diberikan di semua jenjang pendidikan termasuk anak berkebutuhankhusus. Hal ini dilakukan karena pemerintah melihat masyarakat Indonesia darisegi moral saat ini sangat memprihatinkan. Anak autis termasuk anakberkebutuhan khusus sehingga perlu mendapatkan pendidikan karakter.

Pendidikankarakter  perlu diberikan kepada anakautis dengan harapan mampu mewujudkan anak autis yang berkarakter sesuai dengannilai-nilai budaya dan agama seperti halnya anak-anak normal.Nilai agamadiberikan kepada anak autis sebagai salah satu cara agar mengenal Tuhan. Anakautis akan mengetahui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang Tuhanmelalui pendidikan karakter dalam penanaman nilai agama. Pendidikan karakterberkaitan dengan nilai budaya kepada anak autis lebihdiarahkan untuk memberikan contoh pada nilai-nilai tertentu seperti kesetiakawanan,rasa hormat, disiplin, jujur, adil, peduli, dalam kehidupan sehari.

Selainnilai agama dan budaya anak autis juga perlu pendidikan karakter berkaitandengan nilai moral, misalnya sikap berani,tanggung jawab, tolong menolong, saling bahu membahu sesama teman.Mengingat anak autis mengalamigangguan dalam komunikasi dan interaksi sosial maka penanaman nilai pendidikankarakter anak autis disesuaikan dengan kondisi mereka. Salah satu carapenanaman nilai pendidikan karakter anak autis dilakukan melalui dongeng. Dongengmerupakan media efektif untuk menanamkan nilai pendidikan karakter kepada anakautis.Dongeng merupakan bentuk sastra lama yang berceritatentang suatu kejadian yang luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) yangdianggap oleh masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng merupakan bentukcerita tradisional atau cerita yang disampaikan secaraturun-temurun dari nenek moyang. Dongeng berfungsi untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik), dan jugamenghibur.

Mendongengmerupakan salah satu ketrampilan yang harus dikuasai oleh orang tua, guru danjuga terapis. Agar anak autis tertarik kepada dongeng yang dibacakan tentunyacara mendongeng harus menarik. Kalau mendongengnya dengan cara yang biasa,kaku, tidak berekspresi tentunya akan membosankan dan anak tidak tertarikdengan dongeng yang disampaikan. Kalau anak autis sudah tidak tertarik dengandongeng yang dibacakan pesan moral yang terkandung dalam dongeng tidak akansampai pada anak. Oleh karena itu agar pesan yang disampaikan dalam dongeng bisadipahami anak autis, dongeng harus disampaikan dengan cara yang menarik, luwes,dan penuh ekspresi. Semua anak senang mendengarkandongeng atau dibacakan cerita, termasuk anak autis. Saat mendengarkan dongengatau dibacakan cerita, anak autis tampak seperti tidak peduli karena padadasarnya mereka lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat visual.

Oleh karenaitu di dalam mendongeng atau bercerita kepada anak autis diperlupan teknikkhusus agar mereka menaruh perhatian pada dongeng yang disampaikan. Melaluidongeng dilengkapi dengan media gambar sangat tepat untuk pendidikan karakteranak autis. Orang tua, guru, atau terapis bisa memodifikasi dongeng yang ingindisampaikan ke dalam beberapa bentuk fisik yang menarik, misalnya gambarberukuran besar. Dongeng sangat bermanfaat dalam pendidikan karakter anakautis.

Melalui dongeng berbagai pesan moral dapat disampaikan kepada anakautis. selain itu perbendaharaan kata anak akan semakin banyak karena anakautis akan mendapatkan kosa kata baru dalam setiap dongeng yang disampaikankepadanya. Kedekatan dan hubungan emosional antara anak autis dengan orang tua,guru, dan terapis terjalin lebih intim. Semua anak senang bila mendengarkandongeng, termasuk anak autis.

Anak autis tampak seperti tidak peduli ketika dibacakandongeng. Hal ini karena anak autis lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifatvisual. Oleh karena itu, agar anak autis tertarik terhadap dongeng yangdisampaikan diperlukan teknik khusus dalam mendongeng dan media yang sesuaiuntuk anak autis. Beberapa media yang cocok digunakan untuk mendongengbagi anak autis adalah menggunakan media gambar, menggunakan boneka, ataumenggunakan boneka jari. Mendongen menggunakan media boneka jauh lebih baikkarena bentuknya tiga dimensi dan dapat disentuh oleh anak.

Mendongeng denganmenggunakan boneka selain menyampaikan isi dongeng, sekaligus melatih sensorisentuhan anak autis. selain boneka untuk menyampaikan dongen kepada anak bisadilakukan melalui media gambar. Gambar yang digunakan untuk media dongeng sebaiknyamenggunakan gambar berukuran besar dengan harapan anak autis bisa melihatdengan jelas. Agar gambar tampak lebih menarik digunakan gambar yang berwarnadan disampaikan penuh ekspresi. Selain menggunakan media di atas, yang perludipertimbangkan dalam menyampaikan dongeng kepada anak autis adalah isi dongengharus disesuai dengan anak autis. Dongeng yang diberikan kepada anak autis adalah dongengmengajarkan anak akan hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.Misalnya cerita tentang bagaimana berperilaku yang baik di tempat umum.Pendidikan karakter melalui dongeng dengan harapan agar anak autis bisaberkembang dan menjadi pribadi yang utuh dan mandiri.

 5.   SimpulanBerdasarkan uraian di atas dapatdisimpulkan bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk membentukkepribadian anak autis. Nilai-nilai pendidikankarakter yang perlu diberikan kepada anak autis meliputi nilai agama, nilai-nilaikepribadian, nilai moral, dan nilai budaya.

Dongengmerupakan salah satu media yang cocok untuk menanamkan nilai pendidikankarakter kepada anak autis. Melalui dongeng tentang kisah-kisah keteladanan, diharapkananak autis memiliki landasan untuk mengubah pribadi, bangsa, dan negara kearahyang lebih baik.    Daftar Rujukan Baihaqi, MIF.

2006. Memahami dan Membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama.Barnawi dan M. Arifin.

2012. Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter.Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Handojo. 2004. Autisma:Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar Anak Normal, Autis danPerilaku Lain.

Jakarta: Buana Ilmu Populer.Kesuma, Dharma, dkk. 2011.

Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung:RosdakaryaKoesoema, A. 2007. Pendidikan Karakter: StrategiMendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT GrasindoLickona, Thomas. 1992. Educating For Character: How Our School Can Teach Respect andResponsibility. New York: Bantam Books.

Majid, A dan Andayani, D. 2011. PendidikanKarakter Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.Maulana, M. 2007. Anak Autis:Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Jogjakarta: Ar-RuzzMedia Peeters, T.

2004. Autisme:Hubungan Pengetahuan Teoritis dan Intervensi Pendidikan Bagi Penyandang Autis.Jakarta: Dian Rakyat.Peeters, T. 2009. Panduan Autisme: Hubungan Antara Pengetahuan Teoritis dan Intervensi PendidikanBagi Penyandang Autis.

Jakarta: Dian Rakyat.Prasetyono, D. S. 2008. SerbaSerbi Anak Autisn (Autisme dan Gangguan Psikologis Lainnya: mengenal,menangani, dan Mengatasinya dengan Tepat dan Baik).

Jogjakarta: DIVA Press.Priyatna, A. 2010. AmazingAutism: Memahami, Mengasuh, dan mendidik Anak Autis. Jakarta: Gramedia. Puspita, D. 2004. Untaian Duka Tabuaran Mutiara (Hikmah Perjuangan Ibunda Untuk AnakAutistik).

Bandung: Qanita.Siswanto, W; Roekhan; dan Ariani, D. (2017).

TheLearning Development Model for Writing Indonesian Child Stories Based on TheCharacter Education to Support The Creative Industry With the Lesson Study. ISLLAC : Journal of IntensiveStudies on Language, Literature, Art, and Culture, Volume 1 Nomor 2 2017 hal. 69—74, (online)http://journal2.um.

ac.id/index.php/jisllac/article/view/1926/1127, diakses 19Desember 2017Veskarisyanti, G. A. 2008.

12Terapi Autis Paling Efektif dan Hemat: Untuk Autisme, Hiperaktif, dan RetardasiMental. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.Yatim, F. 2003. Autisme:Suatu Gangguan Jiwa pada Anak-anak. Jakarta: Pustaka Populer Obor.Yuwono, J.

2009. MemahamiAnak Autistik: Kajian Teori dan Empirik. Bandung: Alfabeta. 

Written by
admin
x

Hi!
I'm Colleen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out