Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dilengkapi akal budi untuk bertindak, otak untuk berfikir dan belajar, dan perasaan untuk mengendalikan emosi. Pemberdayaan akal budi, perasaan serta otak inilah yang membuat sebuah kebudayaan lahir. Sebuah karya budaya adiluhung juga dihasilkan  oleh penciptanya melalui proses berfikir, pengedepanan ide, serta pengolahan rasa yang mendalam. Pendapat yang hampir sama dikemukakan Rahyono (2015:69), manusia memiliki pikiran, akal budi, serta perasaan untuk mengatasi keterbatasan yang ada pada diri manusia. Proses berfikir dan atau belajar antar sesamanya menghasilkan karya cipta budaya guna mempermudah penyelenggaraan hidup.  Kebudayaan tercipta karena keberadaan manusia. Manusialah yang menciptakan kebudayaan dan manusia pula menjadi pemakainya, sehingga kebudayaan akan selalu ada sepanjang keberadaan manusia.Pendapat senada dikemukakan Musa (2002:20), secara ontologis kebudayaan memang dibentuk oleh manusia, tanpa ada manusia tidak pernah ada kebudayaan.Dipertegas Van Peursen (1976:9-11) kebudayaan merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia. Kebudayaan juga  tidak dapat terlepas dari masyarakat. Kebudayaan datang dari kalangan masyarakat itu sendiri dan digunakan oleh masyarakat itu sendiri. Setiap bangsa atau suku bangsa memiliki kebudayaan sendiri yang berbeda dengan kebudayaan bangsa atau suku bangsa lainnya membuktikan bahwa peradapan suatu bangsa atau suku bangsa yang bersangkutan memiliki pengetahuan, dasar-dasar pemikiran dan sejarah peradaban yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Demikian pula halnya dengan suku bangsa Jawa, memiliki pengetahuan yang menjadi dasar pemikiran dan sejarah kebudayaannya yang khas, dimana dalam kebudayaannya digunakan simbol-simbol atau lambang-lambang sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan-pesan atau nasehat-nasehat bagi bangsanya.Van Peursen (dalam Rahyono,2015:46) menjelaskan,  bahwa kebudayaan juga meliputi tradisi, yaitu pewarisan atau penerusan norma-norma, adat- istiadat, kaidah-kaidah, dan harta-harta. Lebih lanjut dikemukakan, manusia melakukan segala perbuatan dan memadukanya dengan tradisi. Manusialah yang membuat segala sesuatu dengan tradisi. Ia menerima tradisi itu, menolak, atau mengubahnya. Jadi menurut Van Peursen, tradisi bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah. Tradisi sebagaimana dikemukakan Sztompka (2014:71-72) dapat berubah ketika orang memberikan perhatian khusus pada fragmen tradisi  tertentu dan mengabaikan fragmen yang lain. Perubahan tradisi disebabkan oleh kualitas psikologi pikiran manusia yang tanpa kenal lelah  terus berjuang untuk mendapatkan kesenangan  baru dan keaslian, mewujudkan kreativitas, semangat pembaruan dan imajinasi. Selain itu juga disebabkan banyaknya tradisi dan bentrokan antara tradisi yang satu dengan saingannya.Adapun aspek-aspek yang berkaitan dengan tradisi sebagaimana dijelaskan Douglas (dalam Liliweri,2014:98) meliputi: (1) bentuk warisan seni budaya tertentu, (2) kebiasaan atau bahkan kepercayaan yang dilembagakan dan dikelola oleh masyarakat dan pemerintah, misalnya lagu-lagu daerah dan lagu nasional dll, (3) kebiasaan atau kepercayaan bahkan “tubuh ajaran” yang dilembagakan dan dikelola oleh kelompok-kelompok agama, badan-badan gereja yang semuanya dibagikan kepada pihak lain. Keunikan sebuah tradisi dalam masyarakat jawa merupakan tradisi religius yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi tersebut merupakan perwujudan dari kepercayaan  yang kuat terhadap adat istiadat serta  tanggapan masyarakat  terhadap kekuatan alam dan kekuatan ghaib untuk mengetahui makna yang terkandung dalam upacara. Maharkesti (1988:116) menjelaskan, upacara adat itu merupakan  kelakuan simbolis manusia yang mengharapkan keselamatan. Upacara adat sendiri merupakan rangkaian tindakan  yang ditata oleh adat yang berlaku dan berhubungan dengan berbagai peristiwa tetap yang terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Upacara adat itu merupakan eksistensi simbolis yang dilakukan melalui simbol-simbol sebagai sarana untuk menelusuri asal-usul kehidupan manusia.Sementara itu  Clifford Geertz (2014:74)  mengemukakan, adanya ritus, selamatan atau upacara itu merupakan upaya untuk mencari keselamatan, ketentraman sekaligus menjaga kelestarian kosmos. Lebih lanjut dijelaskan, selamatan ini pada hakekatnya merupakan upacara keagamaan yang paling umum di dunia dan melambangkan kesatuan mistis  dan sosial dari mereka yang ikut hadir di dalamnya. Berkaitan dengan sistem keagamaan orang Jawa, Clifford Geertz (2014:3) mengungkapkan bahwa ada ritual yang telah menjadi tradisi, yakni selamatan dan terkadang disebut dengan istilah kenduri. Tujuan diadakan selametan itu adalah agar setiap individu bersama seluruh keluarga akan memperoleh keselamatan, selamat dalam segala tingah laku dan perbuatanya serta tidak mendapatkan gangguan apapun. Sehingga pada akhirnya dapat dicapai kehidupan yang bahagia, sejahtera, lahir dan batin.  Tradisi selamatan adalah ikatan norma yang mengharuskan orang Jawa berinteraksi vertikal dan horizontal. Norma yang berhubungan dengan pekerti vertikal mengharuskan selamatan dilaksanakan dengan khusuk, ikhlas, dan pasrah. Adapun norma horizontal menghendaki  agar selametan dapat mempererat hubungan sosial. Pendapat senada dikemukakan Edraswara (2015:35), tujuan religius dan sosial selamatan adalah menemukan yang dalam istilah kejawen  dan doa Islam dapat ditafsirkan melalui penciptaan sinkretik. Unsur selamatan menjadi media mohon berkah Tuhan. Penampilan slametan yang sakral, dalam bentuk hiburan, melukiskan harmoni sosial. Unsur sakral dalam bentuk  sesaji nasi tumpeng dan ambeng adalah perwujudan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Hal ini secara simbolik merupakan lambang askestisme untuk menemukan kekuatan, agar memiliki kekuatan tertentu. Kegiatan  nyadran bumi merupakan salah satu  bentuk  tradisi masyarakat jawa yang keberadaannya sampai sekarang tetap terpelihara di masyarakat. Disebut tradisi karena kegiatan  nyadran bumi berlangsung turun temurun, diwariskan dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya. Upacara nyadran bumi   dilakukan dari, oleh dan untuk rakyat desa yang sederhana dan jujur serta tekun dalam bekerja, tawakal kepada Tuhan, yang hidup rukun dalam kesederhanaan dan mampu melestarikan alam dan seni budaya tradisional, adalah merupakan perintisan kehidupan masyarakat gotong royong, adil dan makmur berdasarkan pancasila yang didambakan bangsa dan  negara tercinta ini. Dalam  tradisi nyadran bumi   terdapat  acara slametan atau wilujengan.  Selamatan atau wilujengan merupakan upacara pokok atau terpenting dalam hampir semua kegiatan ritus dan upacara dalam sistem religi orang Jawa pada umumnya dan penganut Agami Jawi khususnya. Dalam tradisi atau tindakanya orang Jawa selalu berpegang pada dua hal. Pertama, kepada pandangan hidupnya  atau filsafat hidupnya yang religius dan misti. Kedua, pada sikap hidupnya yang etis dan menjunjung tinggi moral dan derajat hidupnya. Pandangan hidupnya yang selalu menghubungkan segala sesuatu dengan Tuhan yang serba rohaniah atau mistis dan magis, dengan menghormati arwah nenek moyang atau leluhurnya sertab kekuatan-kekuatan yang tidak tampak oleh indera manusia, dipakailah simbol-simbol kesatuan, kekuatan dan keluhuran seperti simbol yang berhubungan dengan kesatuan roh leluhurnya seperti sesaji, menyediakan bunga, membakar kemenyan, selamatan, ziarah, menyediakan air putih.(Herusatoto:2008:139)

Written by
admin